Banyak Keistimewaannya, Berikut Lafal Niat Shalat Tahajud

- 16 Januari 2021, 22:08 WIB
Ilustrasi Salat Tahajud.
Ilustrasi Salat Tahajud. /saintif.com



MAPAY BANDUNG - Shalat tahajud merupakan shalat sunnah di malam hari. Sebagian ulama mensyaratkan tidur terlebih dahulu.

Bagi pandangan sebagian ulama ini, shalat tahajud dilakukan saat seseorang terjaga di malam hari setelah tidur meski hanya sejenak.

Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa hukum shalat tahajud adalah sunnah bagi umat Islam.

Sementara sebagian ulama menyatakan bahwa shalat tahajud adalah wajib bagi Rasulullah SAW secara khusus. Shalat tahajud ini merupakan shalat istimewa dan banyak mengandung keutamaan.

Baca Juga: Lirik Lagu Untuk Kita Renungkan - Ebit G Ade, Tuhan Pasti Telah Memperhitungkan

Baca Juga: Drakor True Beauty Episode 9-10: Apakah Lim Ju Kyung Pilih Lee Su Ho atau Mengalah Pada Kang So Jin?

Shalat tahajud disebutkan di dalam Al-Quran Surat Al-Isra ayat 79, yang artinya sebagai berikut.

“Pada sebagian malam, hendaklah kau bertahajud sebagai tambahan bagimu. Semoga Tuhanmu mengangkatmu ke derajat terpuji,” (QS Al-Isra ayat 79).

Dikutip dari NU Online, beberapa ulama berbeda pendapat perihal tahajud. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah apa pun yang dilakukan di malam hari.

Sementara sebagian ulama lain berpendapat bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah tersendiri dengan syarat-syarat tertentu. Berikut ini adalah lafal niat shalat tahajud.

أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah tahajud dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 40).

Baca Juga: Terkini! Semeru, Gunung Tertinggi di Pulau Jawa Meletus, Muntahkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer

Baca Juga: Kasus Positif di Indonesia Bertambah 14 Ribu, Ini Sebaran per Provinsi: Jabar Kedua Terbanyak

Syekh Ahmad bin Syekh Hijazi Al-Fasyani dalam kitab Al-Majalisus Saniyah fil Kalam alal ‘Arba’in Nawawiyah menceritakan pengalaman menarik dari sahabat Tsabit RA.

Sahabat Tsabit RA bercerita bahwa bapaknya dulu termasuk orang yang kuat mengamalkan tahajud di kegelapan malam.

Tsabit RA mengatakan bahwa ia dalam mimpi melihat wanita cantik yang eloknya tidak seperti wanita cantik lainnya.

“Siapa kamu?” tanya Tsabit.
Ia menjawab, “Aku bidadari, hamba Allah.”
“Kawinkan aku denganmu,” Tsabit memintanya.
“Lamar aku lewat sisi Tuhanmu. Tebuslah maharku,” jawabnya.
“Apa maharmu?”
“Lamakan tahajud,” jawab bidadari itu.

Baca Juga: Taman di Kota Bandung Bakal Bertambah untuk Naikan Indeks Kebahagiaan

Baca Juga: Naik Terus dan Kembali Pecahkan Rekor, Hari Ini Penambahan Kasus Positif Virus Corona Capai 14 Ribu

Memang shalat tahajud itu sebagaimana ibadah lainnya cukup diniatkan untuk Allah SWT.

Tetapi apa salahnya kalau Allah menganugerahkan sesuatu kepada hamba-Nya.

Terlepas dari ganjaran bidadari atau ganjaran lainnya, sembahyang malam memiliki tempat istimewa di sisi-Nya.

Nabi Muhammad SAW sendiri kerap melakukan sembahyang malam bahkan hingga telapak kakinya pecah-pecah. Hal ini patut menjadi teladan bagi umatnya.

Allah sendiri menyimpan anugerah rahasia untuk mereka yang melakukan sembahyang malam.

Di keheningan malam ini juga pengetahuan-pengetahuan yang masih menjadi rahasia tersingkap. Kebuntuan dan simpulan-simpulan dapat terurai di saat banyak orang terlelap. Wallahu A’lam.***

Editor: Rian Firmansyah

Sumber: Instagram NU Online @nuonline_id


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah